Mengenal Muhammad Ali, Perintis“Mantik” Sangia Tenunan Khas Adat Mekongga

0
577

SEPUTAR,KOLAKA-Akulturasi budaya Kerajaan Mekongga yang ada di Kabupaten Kolaka sangat beragam, tak hanya di sektor bahasa, sastra dan tradisi, bahkan dari keberagaman baju adat dan tenunan juga merupakan nilai jual yang patut diperhitungkan.

Figur pengembangan lembaran yang dinamai “Mantik” Sangia Tenunan adat Mekongga ini tidak lekang dari sosok perintis bernama Aliansi, melalui tangan dinginnya selama bertahun-tahun dengan proses yang sulit, tetapi berhasil mengembangkan tenunan khas adat Mekongga.

Ketertarikan Muhammad Aliansi tentang jejak sejarah kerajaan Mekongga yang dituangkan dalam lembaran-lembaran kain tenun patut mendapat apresiasi.Padahal lelaki yang akrab disapa Ali ini sebenarnya bukan putra asli kelahiran Kabupaten Kolaka.

Melainkan Dia adalah perantau asal Sengkang, daerah yang juga merupakan sentra tenun terbesar di Sulawesi Selatan. Pada sejarah, adat, tradisi, dan segala hal yang terkait masa lalu, Ali punya ketertarikan besar. Karena itu, sejak 2009, dia memilih menenun sejarah Mekongga dalam lembaran kain.

“Saya datang di Kolaka tahun 1994, saya bekerja berdagang keliling hingga membantu beberapa usaha milik orang lain. Tahun 1996 saya menikah, dan pada tahun 2009 saya memutuskan untuk mulai membuat tenunan adat Mekongga ini”katanya   (7/1/2021)

Hasil karyanya itu Muhammad ali mematok harga yang relatif terjangkau  untuk satu karya tenunan atau baju adat Mekongga ini, bermacam-macam sesuai dengan tingkat kerumitan motifnya serta waktu pembuatan, biasanya untuk satu lembar hasil tenunan dipatok paling rendah Rp 100 Ribu hingga Rp. 5 juta/lembar

Melalui tenunan kainnya orang bisa melihat bagaimana bentuk tikar yang dipakai raja dan pemangku adat Mekongga dahulu. Ada pula kain tenun bermotif perisai yang dipakai pasukan kerajaan, ornamen dan seni bangunan, perhiasan, hingga kisah cinta antara dua suku yang diberi nama tenun Bunga Cinta.

Dalam sebuah pameran dan lomba di Jakarta, tenun Bunga Cinta merebut gelar juara. Pilihannya menenun bermotif sejarah, tradisi, serta kehidupan sosial dan keseharian masyarakat Kolaka bukan hanya membuat kabupaten itu kini punya oleh-oleh khas.

Ali juga bisa menghidupi banyak petenun dan menginspirasi petenun lainnya untuk lebih kreatif. Kain tenun yang dahulu tak terlalu dilirik dan nyaris ditinggalkan, kini diminati, termasuk oleh generasi muda.

“ Yang jelas kita tetap menjaga kultur budaya terutamanya tenunan adat mekongga ini, harapannya melalui tenunan ini para generasi muda bisa mempelajari budaya dan adat, apalagi saat ini dunia modern lama kelamaan pengetahuan kearifan lokal makin bergeser”harapnya(*)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here