Menelisik Sejarah Singkat Kerajaan Wonua Mekongga

0
813

SEPUTAR,KOLAKA-Berdasarkan penelitian yang dilakukan Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (LPPM) UHO Prof. Dr.H. Nasrudin Suyuti.,M.Si bersama keempat timnya yakni La Ode Aris Sos, M.A, Laxmi Sos, M.A, Asmaharita S.os S.i, dan Hasnia Sos., M.Si pada tahun 2020 bekerja sama dengan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Pemkab Kolaka dengan judul “ Kajian Identifikasi Budaya Mekongga Dalam Perspektif Kesukubangsaan di Kabupaten Kolaka” dengan melibatkan banyak narasumber terpercaya.

Menjelaskan asal muasal Suku Mekongga dan kerajaan Mekongga yang menempati wilayah Kabupaten Kolaka, Kolaka Utara dan Kolaka Timur, yang mana dari hasil penelitian tersebut menyimpulkan bahwa suku Mekongga merupakan orang yang berasal dari sekitaran danau Towuti Luwu Timur Sulawesi Selatan, yang datang di daratan Mekongga melalui atau menyusuri kaki gunung mekongga dan menetap di tempat itu.

“Jadi ada 7 unsur suatu kebudayaan yang pertama, Bahasa, Kesenian, Pengetahuan, organisasi kemasyarakatan, teknologi, ekonomi, dan Religi, kesemuanya ini ada di suku Mekongga”Ucap Prof. Dr.H Nasruddin Suyuti di Kantor Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kolaka Kamis (7/1/21)

Dari penelitian itu juga menjelaskan jauh sebelum kedatangan raja pertama kerajaan Mekongga yaitu Anakia Larumbalangi, wilayah kerajaan Mekongga disebut Unenapo yang didiami oleh suku “To’Moronene” kemudian diambil alih oleh (To’Mekongga) pada abad Ke-V, baru pada saat kedatangan Anakia Larumbalangi  dan setelah penumpasan burung Kongga, pada tahun 1290 To’Mekongga mendeklarasikan berdirinya kerajaan mekongga dan Anakia Larumbalangi menjadi raja Mekongga pertama pada saat itu.

“Jadi Setelah Kedatangan Suku Mekongga, To’Morenene pada saat itu berpindah dari Unenapo atau Kolaka saat ini menuju Kolaka bagian selatan yaitu bombana dan Boepinang sampai ke pulau Kabaena”Terang Kabid Kebudayaan Dinas Pendidikan Kabupaten Kolaka Drs. Munaser Arifin, M.Hum (7/1/21)

Masa keemasan Kerajaan Mekongga selama 642 tahun dari tahun 1290 sampai tahun 1932, di wilayah Kolaka sendiri terdiri dari beberapa daerah kekuasaan Kerajaan Mekongga, Pusat Kerajaan ini (Wilayah inti) meliputi 7 (Tujuh) Daerah yakni daerah Toonomotuo diperintah langsung oleh Raja (Bokeo) mulai dari Lanu-Woimendaa sampai selatan Towonduwo (laponu-ponu) Toari, daerah bagian Kondeha (Mala-Mala) diperintah oleh Mokole Kondeeha mulai dari perbatasan Woimendaa sampai ke Utara Pakue Tanjung Patilaka, Daerah bagian Solewatu (Singgere) diperintah oleh Mokole Singgere, mulai dari Soloweti, lalolae, Tinondo, Sanggona, sampai Rate-Rate Daerah bagian Watu Mendonga diperintah oleh Mokole Lapai (Ueesi), mulai dari Uete sampai Tongauna.

Dalam perkembangan sejarah Kerajaan Mekongga juga terdapat beberapa tradisi sakral yang digelar pada acara-acara tertentu seperti Mosehe Wonua (Penyucian Negeri) Kalosara, Mombesara, dan Mesosambakai,  tak hanya tradisi, suku Mekongga juga kaya akan tarian-tarian, seperti tarian Lulo Sangia (Tarian Penyembahan) Umoara (Tarian Perang), dan Mondotambe (Tarian Penyambutan).

“ Tarian Lulo Sangia ini ada di abad ke- 16 Sangia Teporambe gelarnya Teporambe Sangia Nilulo asal usulnya ini sebagai ritual pengobatan saat raja mengalami sakit, jadi tarian ini tarian adat, tarian pengobatan, tarian ini memberikan kekuatan kembali kepada raja, tarian ini sangat sakral dan hanya dipentaskan di lingkungan kerajaan, dan penarinya itu keturunan dari raja, dimainkan oleh tujuh orang perempuan, awalnya tarian lulo sangia hanya ada di kerajaan mekongga”ucap Peneliti Antropologi Universitas Halu Oleo UHO Kendari Laksmi (8/1/21)

Khasanah pakaian  Suku Mekongga di bawah naungan kerajaan Mekongga begitu kaya, sebut saja seperti Babu Bokeo (Baju Raja) Babu Kapita Babu Pabitara Babu Sapati Babu Mokele Babu Toonomotuo Babu Tamalaki dan Babu Tolea. Baju-baju tersebut yang hingga kini masih dipakai oleh suku Mekongga dalam setiap proses adat di Kabupaten Kolaka.(*)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here