SEPUTAR,KOLAKA.ID-Kolaka,Siapa sangka, ikan bandeng yang selama ini bukan menu favorit masyarakat Kolaka, justru menjadi penyumbang inflasi tertinggi di daerah itu. Lonjakan kebutuhan akibat banyaknya tenaga kerja asing asal China yang bekerja di industri pertambangan membuat permintaan ikan bandeng naik drastis, sementara pasokan lokal tak mampu mengimbangi.
Situasi itulah yang mendorong Pemerintah Kabupaten Kolaka mengambil langkah strategis: menggandeng Kabupaten Bombana, daerah yang dikenal sebagai salah satu lumbung ikan bandeng terbesar di Sultra.
Kesepakatan kerja sama itu resmi terjalin melalui penandatanganan Memorandum of Understanding (MoU) oleh Bupati Kolaka H. Amri dan Bupati Bombana H. Burhanuddin di Aula Sasana Praja, Rabu (19/11/2025). Momentum ini menjadi sinyal kuat bahwa dua daerah bertetangga siap berkolaborasi menjaga stabilitas pangan serta menekan inflasi.
Bupati Kolaka H. Amri menyampaikan secara gamblang kondisi yang terjadi di pasar saat ini.
“Ribuan tenaga kerja asing yang hobi mengonsumsi ikan bandeng menjadi salah satu pemicu laju inflasi di Kolaka,” ujar Amri.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), ikan bandeng kini menyodok posisi sebagai komoditas penyumbang inflasi tertinggi setelah emas dan beras. Harga bandeng yang dulu hanya Rp25 ribu per kilogram kini melesat hingga Rp50 ribu.
“Sebenarnya ikan bandeng ini adalah pilihan terakhir masyarakat Kolaka untuk dikonsumsi. Karena masyarakat kita lebih suka konsumsi ikan sunu, ikan putih, baranong dan kakap. Tapi hari ini tiba-tiba ikan bandeng mempunyai andil besar terhadap laju inflasi daerah,” bebernya.
Permintaan tinggi dari TKA China tidak berbanding lurus dengan produksi petani lokal, sehingga harga terus melambung.
“Hal inilah memicu harga ikan bandeng tinggi dan menyebabkan inflasi,” tambahnya.
Karena itu, Amri berharap kerja sama antar daerah ini menjadi solusi nyata untuk mengamankan pasokan dan menstabilkan harga.
“Kerjasama ini adalah ikhtiar dan upaya kita agar harga dapat terkendali sekaligus mencukupi kebutuhan ikan bandeng di Kolaka. Kita berharap ke depan kerjasama bukan hanya di sektor perikanan, tetapi juga di sektor-sektor lainnya yang berpotensi,” pungkasnya.
Bombana Siap Pasok Bandeng untuk Kolaka
Sementara itu, Bupati Bombana H. Burhanuddin menegaskan dukungan penuh daerahnya dalam kerja sama ini.
“Dengan potensi yang ada, Insyaallah kami siap memenuhi kebutuhan ikan di Kolaka,” ujar Burhanuddin.
Ia menyebut kerja sama ini bukan hanya soal jual beli komoditas, tetapi juga bagian dari upaya bersama meningkatkan kesejahteraan masyarakat dan menjaga stabilitas harga pangan.
Burhanuddin pun membuka peluang kerja sama lanjutan yang dapat memperkuat kedua daerah menghadapi tantangan ekonomi di masa mendatang.
Upaya Serius Tekan Inflasi
Pemerintah Kolaka menilai kerja sama ini selaras dengan strategi 4K TPID — Ketersediaan Pasokan, Kelancaran Distribusi, Keterjangkauan Harga, dan Komunikasi Efektif.
Inflasi Kolaka pada Oktober 2025 tercatat 3,96% lebih tinggi dari nasional (3,5%). Bandeng, ikan layang, dan ikan katamba menjadi penyumbang utama kenaikan harga sejak Maret 2025. Berbagai intervensi harga pangan sudah dilakukan, namun harga bandeng tetap menjadi tantangan terbesar.
Karena itu, Bupati Amri ingin kerja sama dengan Bombana menjadi contoh bagi daerah lain dalam menjaga ketahanan pangan dan stabilitas ekonomi.
Penandatanganan MoU tersebut turut dihadiri jajaran Forkopimda, Sekda Kolaka Akbar, Wakil Ketua DPRD Kolaka Syaifullah Halik, Kapolres Kolaka AKBP Yudha Widyatama Nugraha, Kajari Kolaka Herlina Rauf, serta Kepala BPS Kolaka Ade Ida Mane.
Dengan bergandengan tangan, Kolaka dan Bombana berharap “komoditas sederhana” bernama ikan bandeng justru menjadi pintu pembuka kesejahteraan dan stabilitas ekonomi wilayah. (CR5/Aini)













