Konflik Iran–Israel Memanas, Akademisi UGM Ingatkan Ancaman Krisis Energi dan Tekanan Ekonomi Global

0
47
Konflik Iran–Israel Memanas, Akademisi UGM Ingatkan Ancaman Krisis Energi dan Tekanan Ekonomi Global

SEPUTAR,KOLAKA.ID-Yogyakarta,Ketegangan geopolitik di Timur Tengah kembali menjadi sorotan dunia setelah eskalasi konflik antara Iran dan Israel memicu kekhawatiran terhadap stabilitas ekonomi global. Situasi semakin memanas setelah Iran dilaporkan menutup Selat Hormuz, jalur pelayaran strategis yang selama ini menjadi salah satu titik vital distribusi minyak dunia.

Penutupan jalur tersebut menimbulkan kekhawatiran terhadap terganggunya pasokan energi global yang berpotensi memicu lonjakan harga minyak dan berdampak luas terhadap perekonomian internasional. Isu ini menjadi pembahasan utama dalam Diskusi Pojok Bulaksumur bertajuk *“Dampak Perang Timur Tengah bagi Hubungan Diplomatik, Ancaman Resesi Global, dan Kelangkaan Energi”* yang digelar di Gedung Pusat Universitas Gadjah Mada (UGM).(05/03/2026)

Guru Besar Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik UGM, Siti Mutiah Setyawati, menjelaskan bahwa konflik Iran dan Amerika Serikat memiliki akar sejarah panjang yang memengaruhi dinamika politik kawasan hingga saat ini. Ia menyebut ketegangan tersebut bermula sejak Revolusi Iran 1979 yang menyebabkan hubungan diplomatik Iran dengan Barat terputus.

Menurutnya, dinamika politik dan ideologi di Iran membuat hubungan dengan Amerika Serikat terus diwarnai ketegangan. Kondisi tersebut juga diperkuat oleh berbagai narasi global yang kerap membentuk persepsi Iran sebagai ancaman keamanan internasional.

“Sejak Revolusi Iran tahun 1979 hubungan Iran dengan Amerika Serikat terus berada dalam ketegangan dan berbagai narasi politik kemudian membentuk persepsi global terhadap Iran,” ujarnya.

Siti juga menyoroti langkah Indonesia yang bergabung dalam forum *Board of Peace* yang diprakarsai Amerika Serikat. Menurutnya, forum tersebut diklaim bertujuan mendorong perdamaian di Gaza, namun terdapat persoalan mendasar karena Palestina tidak dilibatkan dalam struktur keanggotaannya.

Ia menilai kondisi tersebut dapat menimbulkan persepsi keberpihakan yang berpotensi menyulitkan posisi Indonesia sebagai mediator dalam konflik Timur Tengah.

“Mediator dalam konflik harus berada dalam posisi netral, sementara ketika Indonesia masuk dalam Board of Peace yang beranggotakan Amerika Serikat dan Israel maka akan sulit bagi pihak lain seperti Iran untuk menerima Indonesia sebagai penengah,” katanya.

Dari sisi ekonomi global, dosen Departemen Ekonomika dan Bisnis Sekolah Vokasi UGM, Yudhistira Hendra Permana, Ph.D., menilai eskalasi konflik Iran–Israel dapat memberikan tekanan signifikan terhadap stabilitas ekonomi dunia. Ia menjelaskan bahwa kenaikan harga minyak akibat konflik geopolitik dapat memicu inflasi karena energi merupakan komponen penting dalam proses produksi.

“Kenaikan harga energi akan mendorong cost-push inflation karena energi masih menjadi faktor produksi utama di banyak sektor,” tuturnya.

Menurut Yudhistira, dampak tersebut akan lebih terasa bagi negara dengan tingkat keterbukaan ekonomi tinggi. Ia menyebut Indonesia termasuk kategori *small open economy* yang sangat dipengaruhi oleh kondisi ekonomi global.

“Indonesia adalah small open economy country yang sangat bergantung pada kondisi ekonomi global sehingga gejolak geopolitik seperti ini akan cepat memengaruhi inflasi dan nilai tukar,” katanya.

Sementara itu, peneliti Pusat Studi Energi UGM, Rachmawan Budiarto, menyoroti potensi gangguan serius terhadap ketahanan energi global akibat penutupan Selat Hormuz. Ia menjelaskan bahwa jalur tersebut dilalui sebagian besar distribusi minyak dunia sehingga gangguan kecil sekalipun dapat berdampak besar pada pasokan energi.

Rachmawan menyebut situasi keamanan yang tidak menentu telah membuat aktivitas pelayaran energi di kawasan tersebut terganggu. Ratusan kapal tanker dilaporkan harus menunggu hingga kondisi kembali aman.

“Ketika Selat Hormuz terganggu, ratusan kapal tanker harus menunggu dan hal ini langsung menimbulkan risiko terhadap ketersediaan energi global,” ujarnya.

Ia menegaskan kondisi tersebut menjadi peringatan bagi Indonesia untuk memperkuat ketahanan energi nasional melalui diversifikasi sumber energi dan peningkatan cadangan strategis. Selain itu, pengembangan energi alternatif dinilai penting untuk mengurangi ketergantungan pada impor energi.

“Menyerahkan pasokan energi kepada negara lain itu seperti menyerahkan leher kita kepada orang lain,” tegasnya.(CR5/Aini)

Sumber: UNIVERSITAS GADJAH MADA

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini