Efek Ramadan 2026: Likuiditas Menguat, Ekonomi Kuartal I Diprediksi Tumbuh Solid

0
34
Efek Ramadan 2026: Likuiditas Menguat, Ekonomi Kuartal I Diprediksi Tumbuh Solid

SEPUTAR,KOLAKA.ID-JAKARTA,Momentum Ramadan dan Idulfitri 2026 diproyeksikan memberi suntikan kuat bagi perekonomian nasional, khususnya pada kuartal pertama tahun ini. Perputaran uang tunai selama periode tersebut diperkirakan menembus Rp 190 triliun, melonjak dari realisasi tahun lalu yang sekitar Rp 160 triliun.

Ekonom dari CORE Indonesia, Yusuf Rendy Manilet, menilai pola tahun ini berbeda karena rangkaian faktor pendorong konsumsi terjadi hampir bersamaan di awal tahun.

“Pencairan THR, lonjakan belanja rumah tangga, hingga arus mudik terkonsentrasi di kuartal I. Ini membuat tekanan positif terhadap pertumbuhan ekonomi lebih terasa dibanding tahun-tahun sebelumnya,” ujarnya kepada KONTAN, Kamis (19/2/2026).

Untuk mendukung kebutuhan transaksi masyarakat, Bank Indonesia telah menyiapkan uang tunai sebesar Rp 185,6 triliun. Jumlah ini meningkat 15,8% dibandingkan periode Ramadan dan Idulfitri tahun lalu, seiring proyeksi naiknya aktivitas ekonomi.

Yusuf menjelaskan, pencairan THR yang dilakukan dalam dua tahap—ASN pada Februari dan pekerja swasta pada Maret—memberikan efek berantai terhadap perekonomian. Konsumsi tidak hanya meningkat secara cepat, tetapi juga berlangsung lebih panjang karena jeda waktu pencairan tersebut.

Dampaknya terasa luas, mulai dari sektor ritel dan distribusi hingga jasa transportasi dan perhotelan. Tradisi mudik juga diperkirakan memperkuat ekonomi daerah melalui peningkatan belanja masyarakat di kampung halaman.

“Konsumsi rumah tangga berkontribusi lebih dari 50% terhadap PDB nasional. Ketika konsumsi naik, dampaknya signifikan terhadap pertumbuhan,” jelasnya.

CORE Indonesia memperkirakan pertumbuhan ekonomi kuartal I-2026 berada di kisaran 5% hingga 5,1%. Namun, Yusuf mengingatkan bahwa stabilitas harga, khususnya pangan, menjadi kunci agar daya beli masyarakat tetap terjaga.

Sementara itu, Kementerian Keuangan Republik Indonesia memproyeksikan pertumbuhan lebih optimistis, yakni antara 5,5% hingga 6%, didukung belanja pemerintah yang mencapai Rp 809 triliun.

Pandangan serupa disampaikan Kepala Pusat Makroekonomi dan Keuangan INDEF, M. Rizal Taufikurahman. Menurutnya, pencairan THR membantu menjaga likuiditas masyarakat sekaligus menopang aktivitas ekonomi.

“THR ASN dan swasta diperkirakan menambah PDB kuartal I-2026 sekitar 0,29%,” katanya.

Meski begitu, Rizal menekankan bahwa dorongan konsumsi ini bersifat musiman. Setelah periode Ramadan dan Idulfitri berlalu, aktivitas belanja masyarakat diprediksi kembali ke tren normal.

Dengan kombinasi belanja pemerintah, pencairan THR, dan tradisi mudik, Ramadan 2026 menjadi titik awal yang menjanjikan bagi pertumbuhan ekonomi nasional—meski tantangan inflasi tetap perlu diantisipasi.(CR5/Aini)

Sumber:KONTAN.CO.ID

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini