Titik Impas (BEP) Proyek Vale di Perkirakan Plaing Cepat 5-10 Tahun

0
122
Titik Impas (BEP) Proyek Vale di Perkirakan Plaing Cepat 5-10 Tahun. Sumber: KOMPAS.com

SEPUTAR,KOLAKA.ID-PT Vale Indonesia Tbk (INCO) memperkirakan sejumlah proyek pengembangan tambang dan smelter perseroan baru mencapai titik impas atau break even point (BEP) dalam kurun 5 sampai 10 tahun. Proyeksi ini tetap relevan meski harga nikel global saat ini tengah mengalami tekanan.

Menurut Head of Corporate Finance and Investor Relation INCO, Andaru Brahmono Adi, koreksi harga nikel berdampak langsung terhadap estimasi imbal hasil atau return di level hilir, terutama untuk smelter High Pressure Acid Leaching (HPAL). Untuk menjaga keekonomian proyek, INCO bersama mitra strategis seperti Huayou dan GEM, sepakat melakukan pengembangan teknologi dan efisiensi biaya agar kebutuhan belanja modal atau capital expenditure (Capex) bisa ditekan.

“Improvisasi supaya nanti Capex yang kita habiskan di smelter itu bisa lebih kecil nilainya. Biar sisi keekonomian akan lebih bertambah,” kata Andaru kepada awak media di Jakarta, Jumat (18/7/2025). Improvisasi ini dilakukan lewat penerapan teknologi baru yang dikembangkan oleh mitra teknologi mereka.

Pendekatan ini bukan hanya menekan Capex, tetapi juga memperbaiki proyeksi nilai ekonomis proyek dalam jangka panjang. Ketika ditanya soal waktu yang dibutuhkan hingga proyek-proyek jumbo ini mulai menghasilkan keuntungan, Andaru menyebut estimasi tidak banyak berubah dari rencana semula.

“Kurang lebih masih sama seperti dua hingga tiga tahun lalu. Masih cukup ekonomis, sekitar 5 sampai 10 tahun, lebih dekat ke 5 tahun,” katanya.

INCO sendiri saat ini tengah mengembangkan tiga tambang besar tersebar di Bahodopi, Pomalaa, dan Sorowako yang dikombinasikan dengan pembangunan fasilitas HPAL sebagai bagian dari strategi hilirisasi di Indonesia.

Tiga proyek jumbo ini memiliki nilai investasi mencapai US$8,5 miliar. Proyek Bahodopi menjadi yang paling siap untuk segera beroperasi dalam waktu dekat, dengan target mulai produksi tahun ini. Setelah itu, proyek Pomalaa dijadwalkan menyusul pada kuartal II/2026, sedangkan Sorowako akan menjadi tahap akhir dari rangkaian ekspansi Vale Indonesia.

Dalam pengembangan hilir, Vale bermitra dengan sejumlah pemain global untuk membangun fasilitas HPAL. Untuk proyek Pomalaa, Vale telah bekerja sama dengan Huayou dan Ford dalam pembangunan smelternya. Sementara untuk Bahodopi, proyek dilakukan bersama GEM, dan di Sorowako, Vale kembali berkolaborasi dengan Huayou.(CR5/aini)

Sumber: Bloomberg Technoz & KOMPAS.com

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini