SEPUTAR,KOLAKA.ID-JAKARTA,Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) kembali melemah pada perdagangan. Berdasarkan data pasar spot, rupiah ditutup terkoreksi 0,42% ke level Rp16.754 per dolar AS hingga pukul 16.29 WIB. (25/9/2025)
Menurut catatan Intercontinental Exchange (ICE), pelemahan ini menandai tren negatif rupiah selama tujuh hari perdagangan beruntun. Posisi tersebut juga menjadi yang terendah dalam empat bulan terakhir, tepatnya sejak awal Mei 2025.
Riset Kiwoom Sekuritas menilai tekanan terhadap rupiah dipicu oleh ekspektasi pasar terkait kebijakan moneter bank sentral AS, The Federal Reserve (The Fed), pada pertemuan bulan depan.
“Kalau pasar merasa The Fed masih akan lebih hati-hati, maka yield US relatif masih lebih menarik dibanding negara lain dan mendukung penguatan DXY (Dollar Index),” tulis riset Kiwoom Sekuritas.
Namun, pelemahan rupiah tidak hanya dipengaruhi faktor eksternal. Dari dalam negeri, pelaku pasar masih menanti keputusan Bank Indonesia (BI) dalam Rapat Dewan Gubernur (RDG) Oktober 2025.
“Jika BI tidak pangkas suku bunga, spread dengan yield US Treasury semakin menyempit, daya tawar Indonesia terkikis. Tapi pemangkasan BI7DRR mengorbankan rupiah,” jelas analis Kiwoom Sekuritas.
Selain itu, meningkatnya kebutuhan pembiayaan dan bertambahnya pasokan Surat Berharga Negara (SBN) turut mempertebal kekhawatiran pasar. Risiko fiskal Indonesia juga dinilai memberi tekanan tambahan terhadap stabilitas rupiah.
Di sisi lain, mata uang Asia lainnya justru terpantau menguat terhadap dolar AS. Dolar Singapura naik tipis 0,01% ke level SG$1,2884/US$, Rupee India menguat 0,05% ke 88,712/US$, dan Won Korea Selatan naik 0,23% ke level 1.401,49/US$.
Dengan tren pelemahan yang berlanjut, pasar menantikan langkah antisipatif otoritas moneter domestik untuk menjaga stabilitas nilai tukar dan sentimen investor. (CR5/Aini)
Sumber: IDNFINANCIALS













