PT Vale Ingatkan Bahaya “Nikel Kotor”, Transisi Energi Hijau Harus Tetap Jaga Lingkungan

0
3

SEPUTAR,KOLAKA.ID-Isu transisi energi hijau saat ini semakin ramai dibicarakan di seluruh dunia. Namun, di balik berkembangnya kendaraan listrik dan energi ramah lingkungan, ada persaingan besar dalam industri nikel yang kini menjadi bahan penting pembuatan baterai.

Presiden Direktur dan CEO PT Vale Indonesia Tbk, Bernardus Irmanto, mengatakan Indonesia memiliki peluang besar karena menjadi salah satu negara penghasil nikel terbesar di dunia. Meski begitu, ia mengingatkan agar pengelolaan tambang tetap memperhatikan lingkungan.

Hal itu disampaikan Bernardus dalam diskusi di Jogja Financial Festival 2026 yang membahas masa depan industri tambang di era energi hijau.

Menurutnya, tujuan utama transisi energi adalah menciptakan lingkungan yang lebih baik dan membantu mengurangi dampak perubahan iklim. Namun, proses produksi nikel juga harus dilakukan secara bertanggung jawab agar tidak merusak alam.

“Yang penting bukan hanya banyaknya produksi nikel, tapi bagaimana nikel itu diproduksi dengan cara yang baik dan ramah lingkungan,” ujarnya.

Bernardus menilai selama ini industri tambang sering mendapat pandangan negatif karena dianggap merusak lingkungan. Padahal, hasil tambang masih sangat dibutuhkan dalam kehidupan sehari-hari, mulai dari pembangunan jalan, pupuk pertanian, hingga teknologi kendaraan listrik.

Ia menjelaskan, Indonesia saat ini tidak cukup hanya mengandalkan jumlah produksi nikel yang besar. Industri tambang juga harus menjaga kualitas dan menerapkan standar keberlanjutan agar produk nikel Indonesia tetap dipercaya dunia.

PT Vale sendiri mengaku terus berupaya menjalankan pertambangan berkelanjutan. Salah satunya dengan melakukan penghijauan dan rehabilitasi hutan lebih luas dibanding area tambang yang dibuka.

Selain itu, perusahaan juga mulai menggunakan energi rendah karbon melalui pembangkit listrik tenaga air (PLTA) untuk mendukung pengolahan nikel.

Bernardus mengingatkan, jika praktik tambang yang merusak lingkungan terus terjadi, maka citra nikel Indonesia bisa memburuk di mata dunia.

“Kalau Indonesia dikenal menghasilkan ‘nikel kotor’, bukan tidak mungkin negara lain akan mencari bahan pengganti selain nikel,” katanya.

Ia juga mengajak generasi muda ikut mengawasi dan menjaga keseimbangan antara pembangunan ekonomi dan kelestarian lingkungan.

Menurutnya, keuntungan dari hasil tambang jangan sampai justru meninggalkan kerusakan yang harus ditanggung generasi mendatang.

“Jangan sampai anak cucu kita nanti yang menanggung dampaknya,” tutup Bernardus.(CR5/Aini)

Sumber:WartaHukum

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini