PT Vale Indonesia Tbk Mengelola Sampah dengan Teknologi Maggot dan Biodigester

0
137
PT Vale Indonesia Tbk Mengelola Sampah dengan Teknologi Maggot dan Biodigester. Sumber: MEDIA ALKHAIRAAT

SEPUTAR,KOLAKA.ID-PT Vale Indonesia Tbk menunjukkan komitmennya terhadap prinsip Zero Waste to Landfill dengan mengurangi volume sampah yang masuk ke tempat pembuangan akhir (TPA).

Perusahaan ini menerapkan metode dan teknologi untuk meminimalisir sampah domestik, seperti mendaur ulang dan memanfaatkan sampah menjadi gas dan pupuk kompos, berdasarkan prinsip Reduce, Reuse, Recycle (3R).

Selain itu, PT Vale juga memanfaatkan limbah hasil tambang untuk memberikan manfaat bagi masyarakat dan perusahaan. Upaya ini menunjukkan komitmen PT Vale terhadap keberlanjutan dan integrasi ESG (Environmental, Social, dan Governance).

SEGREGATION AREA, DONASI SAMPAH HINGGA TEKNOLOGI MAGGOT

PT Vale Indonesia Tbk memiliki Segregation Area di Taman Kehati Sawerigading Wallacea untuk mengelola sampah dengan kapasitas 12-15 ton per hari.

Sampah-sampah dipilah berdasarkan jenisnya dan diolah dengan cara di-press untuk sampah anorganik yang memiliki nilai ekonomis. Sampah-sampah ini kemudian didonasikan ke bank sampah di beberapa desa di lingkar tambang. Menurut Muh Firdaus Muttaqi, Manager Operation Environment & Reclamation, PT Vale telah mendonasikan sekitar 9 ton sampah daur ulang ke bank sampah pada tahun 2025.

“Sebelum donasi, biasanya kami koordinasikan dulu ke bank sampah, mereka butuh berapa. Jadi kalau misalnya bulan ini dia butuh, kami bisa. Jadi, tiap bulan kami bisa. Intinya, kami menunggu dari kesiapan mereka,” ujar Firdaus.

PT Vale juga bekerja sama dengan pengolahan limbah B3 yang sudah berizin untuk mengolah limbah B3 yang dihasilkan.

PT Vale Indonesia Tbk memiliki beberapa metode untuk mengelola sampah organik, salah satunya dengan menggunakan teknologi maggot berupa larva lalat Black Soldier Fly (BSF). Maggot ini dapat mengurai sampah organik menjadi bahan kompos dan juga dapat dimanfaatkan sebagai pakan ternak karena kaya akan protein. Hasil olahan sampah organik ini kemudian diolah menjadi pupuk kompos yang dapat digunakan untuk kegiatan reklamasi.

Selain itu, PT Vale juga memiliki teknologi Biodigester Nickel (BIONI) yang dapat mengolah sampah organik menjadi biogas sebagai energi alternatif dan pupuk organik cair. Teknologi ini terhubung langsung dengan warung-warung di Pasar Magani dan dioperasikan oleh tenaga kerja lokal. Menurut Leoni Butar Butar, Environment Engineer PT Vale, inovasi ini tidak hanya membawa manfaat bagi lingkungan, tapi juga berdampak pada penguatan ekonomi lokal.

Manager Environment PT Vale Indonesia, Umar Kasmon, menambahkan bahwa inisiasi biodigester ini dimulai dari proses pemilihan sampah yang ada di PT Vale. Sampah organik yang telah dipilah kemudian diolah di biodigester menjadi gas metan yang dapat digunakan untuk memasak dan pupuk organik cair.

“Sampah organik yang diproses dengan metode anaerob atau dengan bakteri, berubah menjadi gas metan yang memiliki tekanan sangat rendah, sehingga sangat aman digunakan untuk rumah tangga,” kata Umar.

Dalam sehari, kata dia, pihaknya mengolah sampah maksimal 100 kg dalam biodigester. Dari proses tersebut, biodigester bisa menghasilkan POC sebanyak 50% dari total sampah yang diolah, atau sekitar 50 liter.

“Sejauh ini, POC yang dihasilkan masih kita manfaatkan untuk persemaian bibit di area nursery,” katanya.

Ia menekankan bahwa proses pemilahan sampah di awal adalah hal yang paling penting dikampanyekan. Sebab, kata dia, jika sudah tercampur dengan material-material lain, maka ujung-ujungnya harus dibuang ke TPA atau malah dibakar.

“Pembakaran sendiri hasilnya bukan gas yang bisa dipakai memasak, tapi malah gas yang beracun dan berbahaya. Itu yang selalu ingin kita edukasikan ke masyarakat,” imbuhnya.

WAJIBKAN KARYAWAN MEMILAH SAMPAH SENDIRI LEWAT EMBERISASI

PT Vale Indonesia Tbk memiliki program “emberisasi” yang mewajibkan karyawan memilah sampahnya sendiri di perumahan. Program ini dimulai pada akhir tahun 2024 di sekitar 100 unit rumah dan bertujuan untuk memudahkan proses pengolahan sampah. Dengan memilah sampah, karyawan membantu proses pengolahan sampah di segregasi dan biodigester.

“Susah-susah gampang. Tapi setelah dijalani, ternyata sangat berpengaruh. Yang tadinya sampah basah, langsung buang di tempat sampah dicampur dengan yang lain. Sekarang, ada sisa makanan di selembar tisu saja, sudah kepikiran dan langsung dipilah,” kata Rina.

Tempat pembuangan sampah di rumah sebelumnya hanya satu, namun dengan adanya program emberisasi, kini menjadi tiga.

“Ada untuk sampah bekas makanan, pembungkusnya sama ada sampah residu seperti botol kaca, bekas selai, kotak makanan yang tidak bisa lagi diproses. Dan yang satunya lagi ada ember,” ujarnya.

Narasumber juga aktif melakukan sosialisasi dan mendorong ibu-ibu di perumahan untuk membiasakan diri memilah sampah sendiri. (CR5/Aini)

Sumber: MEDIA ALKHAIRAAT

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini