SEPUTAR,KOLAKA.ID-DEPOK,Industri pertambangan Indonesia tengah menghadapi tantangan besar untuk mempercepat penerapan prinsip Environmental, Social, and Governance (ESG). Di satu sisi, sektor ini menjadi salah satu penopang ekonomi nasional. Namun di sisi lain, dampak lingkungan dan sosial yang ditimbulkan semakin mendapat perhatian publik.
Berdasarkan data pemerintah, sektor pertambangan menyumbang sekitar 12 persen terhadap produk domestik bruto (PDB). Pada 2024, penerimaan negara bukan pajak (PNBP) dari sektor mineral dan batu bara mencapai Rp140,5 triliun. Industri ini juga menyerap lebih dari 310.000 tenaga kerja serta berperan penting dalam penyediaan mineral kritis guna mendukung transisi energi.
Meski demikian, isu emisi karbon, pengelolaan limbah, keselamatan kerja, hingga dampak terhadap masyarakat sekitar wilayah tambang menjadi tantangan yang tidak bisa diabaikan. Integrasi ESG dinilai penting agar keberlanjutan industri dapat terjaga dalam jangka panjang, tidak hanya dari sisi produksi tetapi juga tata kelola dan tanggung jawab sosial.
Sebagai bagian dari upaya mendorong praktik tambang berkelanjutan, PT Vale Indonesia Tbk bersama Universitas Indonesia menggelar forum diskusi yang mendapat dukungan dari Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral. Forum ini membahas strategi penerapan ESG secara lebih komprehensif di sektor pertambangan.
Chief Sustainability and Corporate Affairs Officer PT Vale Indonesia, Budiawansyah, menegaskan bahwa industri perlu bertransformasi dari sekadar praktik good mining menjadi responsible mining. “Tidak ada masa depan tanpa pertambangan, dan tidak ada pula pertambangan tanpa memikirkan masa depan,” ujarnya dalam keterangan tertulis, Rabu (18/2/2026).
Menurut Budiawansyah, ESG kini bukan lagi sekadar kewajiban administratif, melainkan fondasi dalam pengambilan keputusan bisnis. Penerapannya mencakup produksi rendah emisi, pengelolaan limbah yang lebih baik, serta pemberdayaan masyarakat di sekitar wilayah operasional.
Sementara itu, Sekretaris Direktorat Jenderal Mineral dan Batubara Kementerian ESDM, Siti Sumilah Rita Susilawati, menyampaikan bahwa pemerintah terus memperkuat regulasi untuk memastikan praktik pertambangan selaras dengan prinsip keberlanjutan. Implementasi ESG, kata dia, perlu terintegrasi dalam sistem pengawasan dan tata kelola industri.
Dari kalangan akademisi, Guru Besar Fakultas Kesehatan Masyarakat UI, Fatma Lestari, menekankan pentingnya aspek kesehatan dan keselamatan kerja dalam praktik pertambangan berkelanjutan. Ia menilai keberlanjutan industri harus berorientasi pada perlindungan pekerja sekaligus masyarakat sekitar tambang.
Pandangan generasi muda juga turut mewarnai diskusi. Perwakilan mahasiswa, Mohammad Daneth Faizurrizqi, menilai literasi publik dan keterlibatan mahasiswa penting untuk mendorong praktik pertambangan yang lebih transparan dan bertanggung jawab.
Forum ini menjadi bagian dari upaya memperkuat kolaborasi antara industri, pemerintah, dan akademisi dalam mendorong integrasi ESG di sektor pertambangan nasional. Harapannya, transformasi menuju pertambangan yang lebih bertanggung jawab dapat berjalan seiring dengan kontribusinya terhadap perekonomian negara.(CR5/aini)
Sume: REPUBLIKA.CO.ID













