SEPUTAR,KOLAKA.ID-Harga random access memory (RAM) di pasar global mengalami lonjakan signifikan dalam beberapa bulan terakhir. Kenaikan harga ini mulai terasa sejak pertengahan 2025 dan terus berlanjut hingga Desember 2025. Fenomena tersebut dipicu oleh meningkatnya permintaan infrastruktur kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) yang menyerap pasokan memori dalam skala besar.
Perusahaan teknologi raksasa seperti OpenAI, Google, hingga X diketahui membangun pusat data AI berskala masif. Setiap server AI membutuhkan kapasitas memori tinggi untuk melatih dan menjalankan model bahasa serta komputasi kompleks. Kondisi ini mendorong produsen memori dunia mengalihkan fokus produksi ke sektor AI, sehingga pasokan RAM untuk kebutuhan konsumen seperti PC dan smartphone semakin terbatas.
Permintaan AI Meledak Sepanjang 2025
Sepanjang 2025, industri AI menjadi pendorong utama melonjaknya permintaan dynamic random access memory (DRAM) dan NAND Flash. Produsen besar seperti Samsung, SK Hynix, dan Micron memprioritaskan pasokan memori untuk server AI, khususnya high bandwidth memory (HBM) yang digunakan pada graphics processing unit (GPU).
HBM dinilai jauh lebih menguntungkan karena satu wafer produksinya setara dengan beberapa kali produksi DRAM konvensional. Akibatnya, output memori standar berkurang drastis. Harga kontrak DRAM pun dilaporkan naik hingga 100 persen hanya dalam hitungan bulan, melampaui berbagai prediksi awal. Dampaknya langsung terasa di pasar ritel, terutama pada modul DDR4 dan DDR5.
Produsen Alihkan Prioritas Produksi
Tiga produsen besar—Samsung, SK Hynix, dan Micron—menguasai lebih dari 90 persen pasar memori global. Ketiganya mengalihkan kapasitas pabrik ke HBM dan memori kelas enterprise. Micron bahkan menghentikan sebagian lini produk konsumen demi melayani pelanggan korporasi.
SK Hynix mencatat rekor pendapatan berkat penjualan HBM ke Nvidia, sementara Samsung mempertimbangkan langkah serupa demi margin keuntungan yang lebih tinggi. Kebijakan ini membuat segmen konsumen semakin kekurangan pasokan. Di sisi lain, pembangunan pabrik baru membutuhkan waktu bertahun-tahun, sehingga kapasitas tambahan diperkirakan baru signifikan pada 2027 atau lebih lambat, sementara permintaan AI terus meningkat.
Konsumen PC dan Smartphone Paling Terdampak
Lonjakan harga RAM berdampak langsung pada konsumen. Pengguna PC rakitan menghadapi kenaikan harga RAM hingga 2–5 kali lipat dibandingkan sebelumnya. Banyak konsumen menunda peningkatan perangkat atau memilih kapasitas memori lebih kecil. Penjualan komponen pendukung seperti motherboard pun ikut tertekan.
Produsen laptop dan smartphone mulai menaikkan harga jual perangkat, bahkan beberapa produk entry-level kembali menggunakan spesifikasi RAM yang lebih rendah. Dampak krisis ini juga merembet ke konsol gim dan perangkat elektronik lainnya. Sejumlah eksekutif industri memprediksi harga PC bisa naik hingga 20 persen pada 2026. Kondisi serupa juga terjadi pada solid state drive (SSD) karena pasokan NAND Flash ikut tertekan.
Diperkirakan Berlanjut hingga 2026
Analis memperkirakan krisis pasokan dan harga memori masih akan berlangsung hingga akhir 2026. Gelembung industri AI disebut sebagai satu-satunya faktor yang berpotensi menghentikan lonjakan harga. Namun, produsen memori cenderung enggan menambah kapasitas DRAM konvensional karena risiko kelebihan pasokan di masa depan.
Konsumen disarankan memantau pasar dan membeli komponen saat benar-benar dibutuhkan. Sejumlah teknologi alternatif dan inovasi efisiensi memori diprediksi akan bermunculan, meski dalam jangka pendek fokus industri tetap tertuju pada infrastruktur AI.
Masih Ada Harapan Stabilisasi
Beberapa produsen telah mengumumkan rencana ekspansi produksi pada 2026, termasuk SK Hynix dan Samsung. Meski demikian, sebagian besar tambahan kapasitas tersebut tetap diarahkan ke segmen enterprise. Konsumen diharapkan dapat beradaptasi dengan memilih perangkat berkapasitas memori lebih efisien atau terintegrasi.
Kenaikan harga RAM akibat ledakan AI dinilai sebagai perubahan struktural dalam industri teknologi global. Situasi ini menuntut konsumen untuk menyesuaikan strategi pembelian di tengah realitas pasar yang baru. Di Indonesia, kondisi ini berpotensi memengaruhi daya beli masyarakat terhadap smartphone dan PC, seiring meningkatnya harga perangkat teknologi di pasaran.(CR5/Aini)
Sumber: IDNTIMES













