SEPUTAR,KOLAKA.ID-Jakarta,PT Vale Indonesia Tbk (IDX: INCO) mencatatkan kinerja operasional dan keuangan yang solid pada triwulan kedua 2026 (2T26), didorong oleh peningkatan produksi, penguatan harga nikel, serta disiplin operasional. Perseroan menegaskan posisinya sebagai salah satu pemain utama industri nikel Indonesia yang terus memperkuat fondasi pertumbuhan jangka panjang di tengah dinamika pasar global.(29/07/2026)
Pada periode April–Juni 2026, produksi nikel dalam matte mencapai 16.153 metrik ton, meningkat sekitar 19 persendibandingkan triwulan sebelumnya yang sebesar 13.620 ton. Dengan capaian tersebut, total produksi semester pertama 2026 mencapai 29.773 ton.
Peningkatan produksi ini ditopang oleh selesainya proyek Pembangunan Kembali Tanur Listrik 3pada Juni 2026, yang berhasil meningkatkan keandalan operasional tanpa mengurangi fokus terhadap aspek keselamatan kerja.
Tak hanya mencatatkan pertumbuhan produksi nikel matte, PT Vale juga memperlihatkan kemajuan signifikan dalam pengembangan tiga hub pertambangan strategis di Sorowako, Bahodopi, dan Pomalaa.
Di Blok Bahodopi, volume penjualan bijih nikel saprolit mencapai 1,07 juta wet metric ton (wmt) pada kuartal II, naik dari 886 ribu wmt pada kuartal sebelumnya.
Sementara itu, Blok Pomalaa mencatat lonjakan penjualan menjadi 496 ribu wmt, jauh lebih tinggi dibandingkan 89 ribu wmt pada kuartal I 2026. Kinerja tersebut menjadi bukti keberhasilan peningkatan kapasitas operasi sekaligus memperkuat strategi diversifikasi sumber pendapatan Perseroan.
Dari sisi keuangan, PT Vale membukukan pendapatan sebesar AS$290 juta, meningkat 15 persendibandingkan kuartal sebelumnya. Kenaikan tersebut didukung oleh meningkatnya harga realisasi rata-rata nikel matte menjadi AS$14.765 per ton, atau naik sekitar 4 persen secara kuartalan.
Perseroan juga berhasil menjaga efisiensi biaya. Biaya tunai pokok penjualan nikel matte turun menjadi AS$10.005 per ton, dibandingkan AS$10.382 per ton pada triwulan pertama, mencerminkan konsistensi perusahaan dalam mengendalikan biaya operasional.
Kinerja profitabilitas turut menunjukkan perbaikan yang signifikan. EBITDA melonjak 45 persenmenjadi AS$116 juta, sedangkan laba bersih meningkat 39 persen menjadi AS$61 juta dari AS$44 juta pada kuartal sebelumnya.
Selama triwulan kedua, PT Vale mengalokasikan belanja modal sekitar AS$116 juta untuk menjaga keberlanjutan operasi sekaligus mempercepat pengembangan proyek-proyek strategis.
Hingga 30 Juni 2026, saldo kas dan setara kas tercatat sebesar AS$111 juta, yang terutama mencerminkan tingginya aktivitas investasi perusahaan sepanjang periode tersebut.
Di tengah penguatan kinerja bisnis, PT Vale juga terus mendorong hilirisasi industri nikel nasional. Salah satu tonggak penting tercapai melalui kedatangan autoclave untuk Proyek HPAL Sambalagi, bagian dari Indonesia Growth Project (IGP) Morowali yang dikembangkan bersama GEM Co., Ltd. dan EcoPro.
Presiden Direktur dan Chief Executive Officer PT Vale, Bernardus Irmanto, mengatakan kedatangan autoclave menjadi langkah strategis dalam memperkuat rantai nilai industri baterai kendaraan listrik di Indonesia.
“Kedatangan autoclave tersebut merupakan langkah maju yang signifikan dalam pengembangan rantai nilai bahan baku baterai terintegrasi di Indonesia serta memperkuat komitmen PT Vale untuk mendukung agenda hilirisasi nasional,” ujar Bernardus.
Ke depan, PT Vale akan terus mempercepat pembangunan proyek-proyek High Pressure Acid Leach (HPAL) untuk mengolah bijih limonit menjadi Mixed Hydroxide Precipitate (MHP), bahan baku penting dalam rantai pasok baterai kendaraan listrik global.
Dengan kombinasi peningkatan produksi, profitabilitas yang semakin kuat, ekspansi operasional, dan percepatan proyek hilirisasi, PT Vale optimistis mampu mencapai target produksi tahun 2026 sekaligus memperkuat perannya dalam mendukung pengembangan industri nikel dan ekosistem kendaraan listrik Indonesia.(CR5/Aini)













