SEPUTAR,KOLAKA.ID-Jakarta,Sinyal perdamaian antara Amerika Serikat (AS) dan Iran mulai memberikan dampak positif terhadap perekonomian dunia. Salah satu efek yang paling terlihat adalah penurunan harga minyak dunia setelah sebelumnya pasar dibayangi kekhawatiran konflik di Timur Tengah.
Pengamat ekonomi dari Universitas Jember, Adhitya Wardhono, mengatakan pasar global merespons positif meredanya tensi geopolitik antara kedua negara tersebut.
Menurutnya, penurunan harga minyak terjadi karena pelaku pasar mulai memperhitungkan peluang perdamaian yang dapat mengurangi risiko perang di kawasan penghasil minyak dunia.
“Ketika ancaman konflik menurun, premi risiko geopolitik ikut turun dan harga minyak bisa langsung terkoreksi,” ujarnya dikutip dari Antara.
Meski harga minyak mulai melandai, Adhitya menilai level harga saat ini masih cukup tinggi bagi Indonesia, terutama jika bertahan di kisaran US$90 hingga US$100 per barel.
Sebagai negara yang masih bergantung pada impor minyak dan BBM, Indonesia dinilai berpotensi mendapatkan keuntungan jika tren penurunan harga minyak terus berlanjut. Beban impor energi dapat berkurang, subsidi energi lebih terkendali, dan inflasi transportasi bisa ditekan.
Namun demikian, ia mengingatkan bahwa kondisi tersebut belum tentu sepenuhnya menguntungkan apabila nilai tukar rupiah mengalami pelemahan terhadap dolar AS.
“Yang harus dilihat bukan hanya harga minyak dalam dolar, tetapi juga bagaimana nilainya dalam rupiah,” jelasnya.
Selain berdampak pada harga minyak, meredanya konflik AS-Iran juga disebut ikut menekan penguatan dolar AS di pasar global. Kondisi itu membuka peluang bagi rupiah untuk ikut menguat.
Meski begitu, Adhitya menegaskan bahwa penguatan rupiah tetap membutuhkan dukungan kondisi ekonomi domestik yang sehat, seperti inflasi yang stabil, defisit fiskal yang terjaga, serta meningkatnya kepercayaan investor.
Ia juga menilai pasar dunia masih akan bergerak fluktuatif karena situasi Timur Tengah belum sepenuhnya stabil. Gangguan di jalur distribusi minyak seperti Selat Hormuz masih menjadi ancaman yang dapat memicu lonjakan harga sewaktu-waktu.
Menurutnya, pasar energi global kini sangat sensitif terhadap setiap perkembangan geopolitik, termasuk peluang tercapainya kesepakatan damai antara AS dan Iran.
“Meredanya ketegangan ini menjadi kabar baik bagi ekonomi dunia karena pasar menjadi lebih optimistis. Harga minyak turun, dolar melemah, dan tekanan ekonomi global sedikit mereda,” katanya.(CR5/Aini)
Sumber: Beritasatu.com
